Sunday, November 25, 2012

My Real Fairy Tale

Malam-malam abis begadang ngerjain tugas dan sambil nunggu download-an dari driver printer iseng-iseng saya membuka album foto saya, lebih tepatnya foto sebelum dan sesudah kami menikah. Saya selalu merasa pernikahan yang hanya dipersiapkan selama 3 bulan (april dia melamar saya, juli menikah) bener-bener kayak miracle. Mungkin inilah jawaban atas doa-doa kami. Doa orang tua juga tentunya. Saya tidak pernah menyangka bahwa tahun 2012 saya menikah. Di akhir tahun 2011 saja saya masih jadi galauers XD.

Pernah suatu saat ketika saya mempersiapkan pindah ke Bandung untuk studi lanjut, teman kost saya berkata "mbak dian, nanti kl uda lulus balik kost sini aja, ntar bilang ke ibu kost biar kamarmu ga ditempatin orang lain". Trus saya dengan pedenya berkata "lah sapa bilang saya balik ngekost". Teman kost saya bertanya heran "lah emang mau kemana?". "Ya nikah lahhhh". Dan dia tertawa terbahak-bahak ga berhenti-berhenti sambil bilang "nikah sama sapa wong pacar aja kamu ga punya" :|

Apakah itu ada hubungannya dengan law of attraction? Entahlah saya hanya percaya dengan kekuatan doa dan Allah tau kapan dan apa yang terbaik bagi hambanya. Siapa yang menyangka bahwa saya akhirnya menikah dengan teman yang ternyata sudah nangkring bertahun-tahun di kontak BBM saya tanpa ada pikiran sedikitpun bahwa "wah ini calon suami saya" atau "ah saya naksir dia". Dia pun begitu tak pernah terlintas di pikirannya bahwa akan menjadi suami saya orang yang pernah ditolongnya mencarikan kost dan kostnya menjadi tempat persinggahan sementara saya selama saya test di Bandung.

Berbulan-bulan setelah saya bertemu dia terakhir kalinya, untuk menyampaikan titipan mamanya untuk adiknya yang juga ngekost di Bandung (dan saya numpang tidur di kostnya adiknya itu), saya tidak pernah bertemu lagi sehingga akhirnya tiba-tiba kami bertemu dan cring chemistry itu timbul. Timbulnya pun tidak seketika, diperlukan pertolongan dari Allah, kami menyebutnya begitu, untuk akhirnya dijodohkan.

Dari dulu selalu ada anggapan bahwa jodoh itu misteri tidak akan ada yang tau. Saya meyakininya walau kadang mikir, misteri sih misteri tapi sampai kapan nih mau ga nikah-nikah. Pikiran tersebut untuk wanita berumur 27 tahun jelas sangat biasa terlintas. Bahwa wanita memiliki keterbatasan usia (karena faktor melahirkan diatas 30 tahun juga sangat tinggi resikonya) itu benar bagi saya dan mungkin sebagian orang lainnya. Tapi ujung-ujungnya kembali saya menyerahkan kepada Sang Pencipta saya, Dia tahu apa yang terbaik bagi hambanya (lagi-lagi ini yang saya pegang teguh).

Usia pernikahan kami memang baru 4 bulan, tapi alhamdulillah saya merasa bahagia luar biasa mendapat suami dia. Tulisan ini mungkin terlihat menye-menye tapi yah sekali-kali curcol lewat blog boleh dong :) Sekaligus saya ingin memberi saran bagi wanita di luar sana yang masih desperate dengan jodoh. Tingkatkan doa dan ibadahmu, Allah akan memberi yang tepat di saat yang tepat pula.


Jadi ini cerita dongengku, bagaimana dengan kalian?

Sunday, November 18, 2012

The Power of No Mention

Suatu saat saya diskusi seru dalam perjalanan abis dari cafe sama ica (adik kost saya di malang) dan adib sahabatnya. Jadi di mobil itu saya mengutarakan pendapat saya tentang "The Power Of No Mention" (hal ini juga pernah saya twit sih). Saya bilang ke teman-teman saya itu bahwasanya di twitter sering kali ada orang yang ngetwit tanpa menyebut nama orang yang dimaksud. Yah itu yang disebut dengan "no mention. Walopun twit tersebut bukan untuk kita tapi yang ngerasa bisa 1,2 atau beberapa orang loh atas twit tersebut. Teman-teman saya mengiyakan dan bercerita tentang pengalaman mereka kena imbas dari twit no mention tersebut.

http://9gag.com/gag/5846433


Dan bahwasanya no mention itu sering kali negatif. Biasanya ngerasani(ngomongin) orang. Dan tentu saja kebanyakan no mention itu berada diantara orang yang saling follow. Misal nih tiba-tiba saya ngomong seperti ini : “udaahh, nikah aja kalau tiap hari ga mau pisah pagi siang sore malam”. Orang yang mungkin ngetwit tentang pacarnya atau twitpic foto berdua mereka mungkin merasa twit itu ditujukan untuk mereka. Padahal saya ngomongin lagunya Tasya yang “Seharitak cukup sekali” :p. Trus apa mudharatnya? Jelas pertemanan (entah dunia nyata maupun dunia maya) kita dengan orang yang merasa tersinggung itu akan menjadi tidak baik, worst bisa berantem atau putus pertemanan.

Foto diambil dari : Serru.com

Saya pernah menjadi korban maupun orang yang menulis no mention. Tapi semenjak saya menjadi “korban”(saya kasih kutip karena entah ini beneran twitnya untuk saya atau tidak) saya merasa wah ga baik ini no mention. Saya ga mau ah jadi negative thinking atau suudzon sama orang tersebut, tapi tetep tidak bisa mengenyahkan penyakit hati yang satu ini. Dan disadari atau tidak, tapi lebih seringnya ga, no mention ini sangat menyakitkan hati loh. Kadang kalau saya saking ga maunya suudzon sama orang tersebut (kalau saya pikir dia no mention-in saya) untuk beberapa waktu tertentu saya pernah nge-mute orang tersebut. Mending saya ga baca deh daripada saya sakit hati sendiri. Ada mungkin yang berpikiran “ah itu kamu aja yang terlalu sensi”. Lah gimana ga mau mikir gitu kalau konteksnya misalnyaaa saya baru beberapa menit yang lalu bicara dengan orang x trus dia ngetwit “ih males banget ngomong ama lu”. 


Jadi inti dari tulisan yang berbelit-belit diatas saya mencoba untuk memulai dari diri saya sendiri dengan tidak ataupun mengurangi twit no mention. Daripada saya harus memaksa orang lain untuk “positive thinking” dengan twit saya. Bagaimana dengan kalian? :)