Tuesday, May 20, 2014

54 Milyar!

Sudah 100 hari dari ayah saya meninggalkan saya dan ibu saya, sampai sekarang saya masih merasa ayah saya masih ada di rumah. Memang beberapa tahun terakhir ayah saya sakit-sakitan, bulan juni 2013 sempat masuk RS selama 1 minggu, setelah itu kondisi beliau drop. Saya jadi makin sibuk mengurusi peninggalan ayah saya, belum lagi saya adalah anak tunggal jadi semua dilimpahkan kepada saya. Ibu saya ada ibu rumah tangga, tidak pernah bekerja dan kerjaan hanya mengurus rumah. Karena ayah saya adalah pensiunan PNS, tiap bulan ayah saya mendapat uang pensiunan dari negara. Setelah ayah tidak ada, gaji pensiun yang diberikan kepada ibu saya adalah gaji janda, yang mana nominalnya berkurang sekitar 80% dari gaji pensiun ayah. Wah jadi kerasa sekali kurangnya. Alhamdulillah ibu saya masih memiliki sawah untuk dikerjakan jadi untuk mencukup biaya rumah tangga sehari-hari dapat diambil dari uang tersebut.

Kemudian saya merenung, jika suatu saat nanti saya menjadi tua dan pensiun, darimana saya dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga? Saya pernah mendengar bahwa generasi kami saat ini adalah generasi Sandwich. Disebut generasi sandwich karena kita kepepet yaitu harus menghidup orang tua dan anak kita. Pola yang terjadi di masyarakat saat ini adalah orang tua masih banyak yang menggantungkan hidup kepada anaknya. Sebagai anak tentu kewajiban kita mengurus orang tua kita. Tetapi saya jadi mikir, insyallah jika saya tua nanti saya tidak ingin merepotkan anak saya. Saya ingin jika tua menjadi seperti mama, masih bisa mencukupi kebutuhan diri sendiri. Mama saya masih mendapat pendapatan dari uang sawah, jadi saya disini bukan termasuk generasi sandwich. Sekarang bayangkan jika mama saya tidak memiliki investasi apapun dan hanya bergantung dari uang pensiun papa, tentu tidak akan mencukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kesehatan, saya tahu betul uang pensiun papa saya habis untuk biaya pengobatan. Setiap bulan papa harus kontrol ke dokter dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Memang pensiun pns ditanggung oleh BPJS. Akan tetapi sudah menjadi rahasia umum jika mengurus BPJS itu rumit. Pernah ayah saya sakit jantung dan ketika akan mengurus BPJS diharuskan ke dokter umum, padahal kondisi ayah sudah ngedrop dan akan menebus obat jantung rekomendasi dari dr jantung, yang mana tentu biaya obat jantung tersebut tidak sedikit. Jadilah ayah saya menebus menggunakan uang pribadi daripada ribet mengurus BPJS.

Belajar dari pengalaman orang tua saya, saya menjadi sadar bahwa biaya persiapan pensiun sudah harus disiapkan sejak sekarang. Tidak boleh lagi ditunda-tunda. Kemudian saya menarik suami saya ke financial planner, ya maklum kita berdua sama-sama awam masalah financial. Setelah konsultasi financial planner kami mencoba menghitung biaya pensiun saya dan suami. Ekspektasi saya sebagai tenaga pengajar, saya akan pensiun di usia 60 tahun. Dengan Life expectancy 80 tahun. Saya hitung maka keluarlah angka berikut :





Kebutuhan dana untuk dana pensiunan adalah 33 milyar, dan kebutuhan dana untuk kesehatan pensiun sebesar 21 milyar. Langsung mendadak stress. Jadi paling ga saya harus menabung berapa tiap bulannya? Menurut perhitungan dana pensiun tersebut diharapkan dapat dicapai dengan melakukan investasi pada produk dengan target return sebesar 20%. Kemudian apakah hanya dengan menabung dapat mencukupi kebutuhan saya? Iseng-iseng saya mencari tahu tentang tabungan pensiun di BNI yaitu BNI simponi, karena suami saya telah didaftarkan oleh perusahannya uang pensiunnya melalui BNI simponi otomatis saya jadi penasaran dan ingin tahu bagaimana produk BNI simponi. Kalau hanya mengandalkan dari tabungan tentu tidak mencukup, seperti yang sudah kita tahu bahwa bunga tabungan cukup rendah, kita butuh menyimpan dana dengan bunga lebih tinggi daripada tabungan misalnya obligasi, reksadana, deposito dll. 

Ternyata di BNI simfoni kita dapat memilih akan kita investasikan kemana uang pensiun kita. Berikut paket investasi yang bisa kita pilih di BNI simponi :
  • 75%   (Deposito dan/atau Pasar Uang); 25% (Obligasi)
  • 50  (Deposito dan/atau Pasar Uang); 50(Obligasi)
  • 100(Deposito dan/atau Pasar Uang)
  • 100% (Deposito Syariah, Pasar Uang Syariah dan/atau Obligasi Syariah)
  • 50%   (DepositoPasar Uang dan/atau Obligasi Syariah) dan 50% (RD Syariah)
  • 50%   (Deposito dan/atau Pasar Uang); 50% (Reksadana dan/atau Saham)
  • 50%   (Obligasi); 50% (Reksadana dan/atau Saham)
Wah saya semakin tertarik untuk menyimpan dana pensiun saya di BNI simfoni. Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian menyiapkan dana pensiun nanti?

http://bit.ly/BNI_Simponi

4 comments:

nengbiker said...

aku sakit jantung lihat angkanya, put
yok kerja lebih keras lagi T_T
dan investasi lebih banyak!

Zput said...

Hihi iya mbak neng mendadak stress dan tak enak makn *lebay*

benny said...

paket investasi yang bisa kita pilih di BNI simponi --> ini maksudnya uang yg diinvest nambah sesuai yg dipilih? *blm dong dari kemarin*

Zput said...

ankab : anu kaben, jd kan investasi ada yg bermacam2, ada ORI, ada deposito, ada reksadana, otomatis resiko dan bunganya juga berbeda, nah kl bni ini kita bisa milih mau naruh uang itu dialokasikan kemana, gitu.
misal kita milih 100% dari dana kita ke deposito aja, atau pilihan 75% deposito 25% reksadana.
eh aku mbulet ga jawabnya? ngerti ga? mudah2an ngerti